Artikel

Selasa, 05 November 2013

Berhasilkah Kamu Melewati Ujian Pra-Nikah?



Banyak orang bilang menikah itu nikmat, menikah itu asyik, menikah itu blablabla (yang indah-indah), tapi hal itu tidak terjadi pada diriku, Ajeng. Coba deh, sebelum nikah apa ga ribet ngurusin tetek bengeknya  yang disebut sebagai persiapan nikah? aku cerita awalnya ya...

Rencana pernikahan yang sudah kususun selama setahun terakhir kurang lebih, tidak semuanya sesuai mauku. Bagaimana tidak, aku sudah mempersiapkan ini itu, tetapi karena kondisi yang ada aku tidak bisa dengan seenaknya memaksakan kehendakku, ada hal-hal yang sedang kupertaruhkan di sini. Setaun yang lalu ketika "calon imamku" datang melamarku dan membicarakan pembicaraan antar orang tua, aku senang, bahagia. di sepakati setahun kemudian pernikahan ini dilangsungkan, calon imamku tak sabar menunggu rupanya. karena yang dijadwalkan setahun atau dua tahun lagi. Setelah pembicaraan itu, aku mulai menyusun konsepnya bersama dia, cuma karena pekerjaannya yang mengharuskan kita tak bisa bertemu atau berkomunikasi dengan baiklah yang membuatku rela mempersiapkan sendirian, terlebih karena calon imamku itu termasuk orang yang mengikuti terserah apa kata mauku. Sudah kususun dengan apik bagaimana inginku di hari bahagiaku yang hanya sekali seumur hidup. ya, aku akan bersama dia selamanya. Aku ulangi, SELAMANYA. karena aku yakin, kita itu jodoh, dan tuhan menggariskan sesuatu untuk cerita kita nanti. 

Semua sudah terencana, hingga akhirnya sesuatu yang tak kuinginkan datang. Aku tak mau bahagiaku tergantikan dengan kesedihan tiada tara. Tapi siapa bisa menolak musibah? bukankah jika kita bisa melewati ujian dariNYA bukankah kita termasuk orang-orang yang beruntung? bagaimanapun hal buruk yang menimpa harus kita hadapi dengan baik bukan? iya, setahun terakhir setelah lamaran itu musibah itu datang, ibu mertuaku sakit. entah apa penyebabnya, bermacam-macam dokter memeriksa beliau dan semuanya memvonis penyakit ibu mertuaku berbeda-beda, karena hal itu, ibu mertuaku sampai kehilangan berpuluh-puluh kilo berat badannya. hingga akhirnya beliau melakukan berobat alternatif, sesampainya di sana. dan sudah lumayan pulih, beliau kembali ke rumahnya di bilangan Depok.

 Dan ketika calon imamku selesai dinasnya beliau mengantarkan ibunya untuk check-up ke dokter. Tak disangka tak dinyana, ibu mertuaku positif menderita kanker stadium 4. Bagaimana aku tak bersedih? beliau merupakan calon ibu keduaku, yang bahkan sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri semenjak aku berpacaran dengan calon imamku itu. aku melupakan segalanya, rasanya undangan yang keburu di sebar ini ingin aku tarik kembali, karena semenjak dokter menyatakan hal itu, otomatis calon imamku bertahan di Depok daripada menemuiku di sini, di kota kecil ini, Salatiga. 

Penyakit sialan itu diketahui 3 minggu sebelum pernikahanku, bagaimana aku tidak kalut? yang ada di pikiranku semua hal, campur aduk menjadi satu. Bukan aku ingin mengeraskan ego dengan tetap mengadakan pernikahan, tetapi semua undangan sudah di sebar. pakaian sudah fix, gedung sudah lunas, apapun yang kita persiapkan sudah beres. intinya, tinggal menunggu hari H saja. Aku bingung, sudah jauh-jauh hari aku mengingatkan calon imamku untuk menghubungi saudara-saudaranya "mas, kalau ibu sama bapak ga bisa dateng, siapa yang jadi walimu?". dan itu pun hanya ditanggapin sebagai angin lalu sama dia. Aku mengerti, dia pasti sedang kalut dengan kondisi ibunya, dan ketika aku mempertanyakan "mas butuh undangan berapa?" dia hanya menjawab "ga usah dek, mas ga butuh undangan, nanti ibu yang mau telfon semua keluarga mas." itu jawaban mas sebelum ibu jatuh sakit. tapi, ketika ibu sakit, mas malah ingin mengundur hari pernikahan kita, bukan apa-apa. lebih baik tidak jadi daripada diundur, bukan aku egois, tetapi, semua sudah fix dan dia tiba-tiba bilang begitu??? keluargaku sudah memberikan opsi saat itu, setahun atau 2 tahun lagi, dan dia dengan mantap menjawab "setahun lagi aja ma". Orang tuaku pun turut prihatin, bahkan tak jarang aku mendengar omongan sumbang dari kenalan-kenalanku, yang meragukan kita bisa bersama. Semua itu HANYA kuanggap angin lalu. dan semakin semangat aku untuk membuktikan kepada mereka bahwa semua akan baik-baik saja. 

Aku pikir semua itu sudah beres ketika calonku itu menginginkan walinya salah seorang keluarganya, tapi ternyata, yang dia inginkan tidak bisa, karena sedang bertugas. Semakin kalut, karena ternyata dia belum mengabari semua keluarga besarnya. trus, yang menjadi walinya dia siapa nanti? yang mendampingi dia siapa? Aku nangis dan ingin menyerah dengan semua ini, ketika aku teringat, cobaan sebelum menikah itu seperti ini, aku harus bisa melewatinya, apapun itu. dan aku selalu berselisih dengan dia hampir setiap hari, segala hal kita ributkan, yang dia tidak bisa mengerti posisiku dan kedua orang tuaku, dan dia hanya minta di mengerti saja untuk posisinya kali ini, sama-sama sulit buat kita sebenernya, siapa sih yang mau begini? ga ada yang minta kan? sampai akhirnya aku bilang "mas, kalau mau diundur silahkan, dan bukan sama aku, aku akan batalin semuanya, dan aku ga akan di Salatiga lagi, aku sudah menyusahkan banyak orang mas. Aku mau mencari ketenangan di tempat baruku nanti, aku malu sama mama, papa yang sudah aku repotkan dan aku akan berbesar hati jika kamu bukan jodohku". Aku pun mengatakan itu sambil menangis, mengingat semua hal yang telah kita lalui bersama selama hampir 5 tahun, bagaimana dengan memandangnya saja bisa membuatku merasa nyaman, bahwa berada di peluknyalah sesungguh-sungguhnya tempatku merasakan hangat, merasa dicintai, merasa ingin dimiliki seutuhnya, dan segala ucapan yang dia buktikan, bukan sekedar omong kosong belaka. bahwa aku merasakan, dia berbeda dari laki-laki yang aku temui sebelum-sebelumnya. memang dia tidak romantis, tetapi keteguhannya, kegigihannya mempertahankanku, membuatku merasa tenang, mungkin umur yang terpaut jauh ini yang membuat aku merasakan nyaman dan terlindungi. memang kita tidak berpacaran dengan  model yang setiap hari selalu ada, atau harus bertemu, karena dia tidak bisa begitu, jika dia dinas, aku harus siap berpisah lama, dan bahkan dihubungi jika dia di sana bisa mendapatkan signal. di saat aku mempertanyakan apakah aku bisa bertahan dengan seseorang model begini, seseorang yang tidak bisa selalu aku jamah, seseorang yang tidak bisa aku temui setiap hari, seseorang yang mungkin hanya akan kudengar kabarnya melalui email, sosial media, ataupun kalau bisa menelpon. siapa yang tidak ragu? bahkan akupun meragukan diriku, tapi, dia datang meyakinkanku bahwa semua ini akan baik-baik saja, bahwa akulah yang menjadi alasan sebenar-benarnya dia pulang. akulah yang selalu  dia cari, didambakannya, diinginkannya, bahwa dengan ke'simple'anku bisa mengubah perilaku-perilaku buruknya dia. bahwa akulah yang menjadi sumber semangatnya, sumber motivasinya dan sumber segala kebimbangan dia.

Dan pada akhirnyalah dia yang menenangkanku dengan mengatakan bahwa dia tidak ingin kehilanganku, dan dia akan bertanggung jawab terhadapku dan apa yang sudah kita rencanakan dari jauh-jauh hari, bahwa sebenarnya inilah dunia yang harus kita hadapi berdua, bukan aku atau dia yang menanggung hal ini sendirian. kusunggingkan senyumku kala itu, merasa, masalah terbesarku sudah menemui solving yang tepat, bahwa setelah pernikahan kita sudah aku rencanakan untuk terbang menemui ibu mertuaku untuk kemudian aku sungkem kepada beliau, yang sudi menerimaku sebagai menantunya. 

Ternyata tak sampai di situ, di saat aku menyuruhnya untuk dateng ke Salatiga 5 hari sebelum hari H, karena kita perlu mengurus ke KUA bersama-sama. dia menyatakan keberatan, bahwa dia baru bisa datang ke kota ini 3 hari sebelum hari H, ibuku menangis, karena dia tidak menghubungiku melainkan ibuku langsung, dan meminta maaf kepada ibuku untuk memakluminya sekali ini, dan dia pun meminta bahwa tidak usah ada resepsi, hanyalah akad saja biasa kemudian makan-makan keluarga, dia pun meminta maaf bahwa keluarganya dari Depok tidak ada yang bisa datang, semua menemani ibunya karena ternyata calon ibu mertuaku di operasi pas hari akad kita. Tak tega melihat ibuku menangis dan bersedih, karena aku merupakan anak cewek satu-satunya yang dimilikinya, tetapi kita pun memutar otak lagi, akhirnya, Akad kita sepakati di sebuah masjid agung di kota ini, secara sederhana, bukan apa-apa hanya ingin merasakan prihatin diatas bahagia yang aku raih. 

Sekali lagi aku bilang sama mas, bahwa biaya gedung untuk resepsi sudah lunas, gak bisa seenaknya dibatalkan begitu saja, bahwapun perjanjiannya jika batal maka uang yang kita keluarkan akan hangus. Akupun bilang "mas, bukan kita engga prihatin sama keadaan sekarang, tapi apa yang kita rencanakan sudah lebih dulu kita pertimbangkan berkali-kali, dan bahwa apa yang terjadi bukan keinginan kita, melainkan kehendak allah semata". dan itu yang bisa diberikan oleh orangtuaku untuk pernikahan kita mas, apa kita tega menyia-nyiakan semua yang sudah dipersiapkan mereka mas?". kataku dengan sabar, memang komunikasi tak bertatap muka seperti ini sering menimbulkan kesalahpahaman di antara kita, sampai kadang membuatku tak sabar ingin segera menemuinya dan berkomunikasi dengan bertemu langsung, akhirnya diapun luluh. aku bilang aku rela ke KUA sendirian untuk mengurus pernikahan kita, kamu tinggal datang saja.

Hingga akhirnya hari yang kita tunggu-tunggu tiba, dan semua berjalan sesuai rencana yang sudah di revisi berkali-kali, dua hari yang melelahkan pun terlewati sudah, sekarang kita resmi menjadi suami istri, 
aku siap menjadikannya imamku, bahwa apapun yang kulakukan, dia sanggup membimbingku dan menanggung segala dosa yang aku lakukan. Aku akan menuruti apa kata imamku untuk kebaikan rumah tangga kita, dan bagaimanapun yang terjadi haruslah siap kita hadapi bersama. 
bahwa pada akhirnya saat aku terkenang momen "Saya terima nikahnya Ajeng Susilowati binti Hendra Wiryawan *blablablabla*". aku selalu ketar-ketir, cemas jika dia salah mengucapkan, karena pada saat latihan dia berkali-kali melakukan kesalahan, untunglah yang aku takutkan tidak terjadi, dia mengucapkan itu dalam satu tarikan napas panjang dan ketika semua hadirin bilang sah, aku selalu ingin menangis, menangis haru, menangis, bahwa dia siap menerimaku apa adanya, segala kekuranganku, apalagi saat dia membacakan janji nikah mempelai pria di hadapan penghulu dan semua yang hadir di situ, kembali aku merasakan seperti baru saja dilahirkan kembali, dan aku merasa jatuh cinta lagi dengannya untuk yang kedua kali. 

Mas, satu hal yang perlu kamu tahu, aku mencintaimu mas, dengan segala yang ada di dalam dirimu, segala keunikanmu, keanehanmu, kelakuanmu yang membuatku tak pernah berhenti menyunggingkan senyum, apapun mas, terima kasih sudah mau menerimaku sebagai istrimu mas. Mungkin memang pernikahan kita banyak kurang di mana-mana bahwa yang seharusnya duduk di seberangmu adalah orang tuamu, namun kita pun tak bisa memaksakan keadaan lebih dan lebih, hanya satu yang ingin aku katakan : "Aku bahagia bersamamu, Mas".

Ternyata aku mampu mengalahkan mereka yang telah berbicara sumbang mengenai pernikahanku, bahwa sesungguhnya ujian yang diberikan oleh Allah, SWT ini mampu aku lewati. Terima kasih Allah, aku semakin kuat menghadapi hidup ini. :)

*berdasarkan kisah nyata, yang sudah diedit di mana-mana*




Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mari berkomentar yang baik yaaaa