Artikel

Minggu, 10 Agustus 2014

Hai, bagaimana kabarmu, Tuan?

Kepada pemilik kharisma yang selalu menggetarkan jiwa,
Bagaimana kabarmu? Baikkah keadaanmu? Begitupun aku di sini baik-baik saja
Sepertinya kau semakin sibuk ya? Semakin banyak proyek yang kau kerjakan atas nama kemanusiaan
Bagaimana bisa aku tidak bangga dengan pencapaian yang kau raih?
Bagaimana bisa aku tidak mendukung apa-apa yang sedang kau kerjakan?
Bagaimana bisa aku menutup mata dengan hal baik yang kau lakukan?
Aku selalu mendukungmu dan mendoakanmu di sini, tentu saja
Walaupun aku tahu, engkau mungkin tidak lagi memerlukan dukunganku
Dan kau mungkin tidak merasa perlu lagi untuk berdiskusi denganku tentang hal kecil ataupun hal besar lainnya, aku rasa engkau tak akan memerlukannya lagi.
Karena kau semakin jauh dan jarak diantara kita membentang semakin lebar
Sadarkah kamu?
Yang perlu kau tahu, aku akan tetap di sini, menanti sekiranya kau akan kembali
Dan kau harus tahu, pertemuan berdua denganmu selalu kunantikan J

Kepada pemilik senyum yang paling jahil dan tulus saat bersama
Tahukah? Senyum simpul darimu yang selalu kuharapkan
Keusilanmu yang selalu kurindukan
Pemanjaan darimu yang selalu aku nantikan
Bahkan, berbincang denganmu yang paling aku inginkan
Kita bisa berbincang bersama kan?
Tentang hujan, tentang kegiatan, dan tentang masing-masing kita
Kepada pemilik mata teduh yang paling aku nantikan sosoknya
Pertemuan denganmu hal yang paling aku benci tapi slalu kunanti
Bagaimana bisa jantungku berdegup dengan kencang saat kau ingin menghampiriku
Sungguh menggelitik hati. Menggetarkan jiwa, kharismamu mengalahkan segala
Aku, puan yang telah terjatuh ke dalam indahnya pesona yang kau berikan
Terimakasih telah menyempatkan waktu bersama-sama

Dari,

-Puan yang selalu menantikanmu pulang-

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mari berkomentar yang baik yaaaa