Artikel

Jumat, 30 Januari 2015

Kamu, Tawaku.

Teruntuk kamu yang selalu membuatku tertawa dengan segala tingkahmu,
Hai, bagaimana harimu, ? Kuharap selalu menyenangkan ya. Ah, kau tahu aku sudah lama meninggalkan ritual surat menyurat seperti ini terakhir sejak kita lulus sekolah, memutuskan kembali ke kota asal kita masing-masing. Kamu masih ingat nggak awal mula kita bertemu dan kemudian memutuskan bersama? Ah, sungguh konyol ya saat itu. Kamu menghampiri aku yang sedang duduk kelelahan sehabis latihan dan kemudian aku mengacuhkanmu saat kau mengajakku bicara, hahaha maafkan aku ya karena aku bukan tipe yang suka mengobrol dengan lawan jenis apalagi yang belum kenal. Aku jutek, itu katamu lalu setelah itu kamu memusuhiku tanpa sebab. Masih ingat tentang kelasmu yang menantang kelasku untuk bertanding bersama hanya karena masalah sepele? Hahahhaa kekanakan sekali aku waktu itu, membenarkan semua tindakanku dan teman-temanku mengambil hak orang lain. Ah, kalau ku ingat lagi, itu pertama kalinya kita berkenalan dan bermusuhan di saat yang bersamaan :D
Aku rindu kamu, rindu dengan masa-masa lalu. Rindu dengan tingkah laku kita yang tak pernah bisa diterima oleh akal sehat orang lain, karena cinta itu membutakan, katamu saat itu. Bagaimana bisa itu membutakan sedangkan untuk menikmatinya saja kita butuh membuka semua indera kita. Semua tak pernah bisa diterima akal sehat, sayang, tidak oleh ku, olehmu dan orang-orang sekeliling kita. Kamu masih ingat kelakuan konyolmu saat itu, yang membuatmu merasa tersiksa selama dua minggu? Ahahahhaa bagaimana bisa, kamu salah orang waktu menyatakan perasaanmu. Kamu merasa dia itu aku, lucu sekali. Kamu cemberut melihatku tertawa puas, lepas, terlebih lagi setelah si dia pun menganggap serius pernyataan cintamu. Aku hanya memperhatikanmu dari jauh sambil sesekali tertawa lucu, pun ketika wanitamu datang menghampirimu tanpa kau minta, kau lantas sibuk membenahi diri.
Mengingatmu, berarti mengulang masa lalu, lintasan kenangan berhamburan keluar, kau yang sekarang berbeda, tak seperti dulu, dulu kau selalu bercanda, membuatku tertawa dengan tingkah laku konyolmu, menjagaku diantara lautan manusia yang tak kukenal, membantuku ketika aku kesulitan mengingat lawan bicaraku karena banyaknya orang di sekitar kita, serta perhatian-perhatian kecilmu saat waktu makan tiba, dan semua hal yang kau lakukan hanya untuk melihatku bahagia bersamamu.
Sekarang, bahagialah sayang. Bahagialah dengan apa yang kau pilih. Dengan siapa kamu akan menghabiskan masa tuamu nanti, aku hanya bisa mendoakanmu berbahagia selalu, selalu berpikir optimis dan semangat menyambut hari dan memeluk bahagia ya Sayang, aku. Kutitipkan dia untuk kau jaga sepenuh hati, tidak, aku tidak bersedih karena kehilangan kamu, karena dengan begitu aku bisa menghargai masa-masaku saat denganmu dan tidak menjadi terbeban karenanya.
Duh, panjang juga ya ini surat sayang skg aku tak tahu sosial mediamu, hehehe udah dulu ya, aku mau menjemput bahagiaku.
Dari
Aku, yang selalu kamu bikin tertawa.


Nb : Surat ini aku ikutkan dalam event #30HariMenulisSuratCinta di twitter.