Artikel

Sabtu, 31 Januari 2015

Surat untuk kedua wanita kesayanganku

Teruntuk mamah dan ibuku yang belum bisa kubahagiakan

Selamat membaca surat ini mamah dan ibu, kalian berdua wanita yang paling kusayangi di dunia ini, bukanlah salah satu dari kalian, karena jika aku harus memilih maka aku tak akan pernah menjawab pilihan itu, karena bagiku kalian berdua sama berartinya bagi hidupku.
Teruntuk mamah yang sudah lebih dulu menjemput kebahagiaan yang kekal, apakabar mah? Lama kita tak bersua, lama aku hidup sendirian tanpa punya teman bercerita, tak pernah ada pendengar sebaik engkau mah, kau yang selalu, selalu dan selalu memanjakan aku, selalu menuruti semua inginku, selalu menyayangiku walaupun aku terkadang membantahmu, tak menurutimu, tak mendengarkanmu, dan segudang kenakalanku lainnya, yang jika kuingat sekarang ingin sekali aku berlutut meminta maaf kepadamu atas apa yang kulakukan saat masih kanak-kanak dulu, aku kehilangan pegangan ketika kau pergi mah, duniaku gelap. Tak bisa kupercaya nasib apa yang sedang kuhadapi ini, tuhan sedang menguji keluarga ini, batinku berteriak merasa ini semua tak adil, tak seharusnya kau pergi dengan cara begitu, Ma. Tapi aku bisa apa? Jika kau lebih disayang tuhan dibanding keinginanmu bersama dengan kami.
Aku menyayangimu, Ma. Tak pernah bosan kuucapkan sekarang, seperti yasin yang aku kirimkan untukmu, selalu. Ma, ada yang menggantikanmu mengurus kami, memerhatikan aku dan adek layaknya anak kandungnya, orang itu kusebut Ibu. Ma, kau tak cemburu kan? Kau tak perlu merasa marah kan, Ma? Darinya, aku belajar banyak hal tentang kedewasaan, usiaku 18 saat itu, Ma. Berat rasanya memikirkan dirimu digantikan oleh yang lainnya, tapi bagaimana? Hidup harus terus berjalan kan ma? Aku ga boleh egois, aku merasakan kasihmu 10 tahun, sedangkan adek hanya 22 bulan, aku ga boleh merenggut kebahagiaan orang-orang terdekatku, kan Ma? Toh, ini hanya untuk kebahagiaan adek dan papa. Aku mulai menerimanya di hidupku, Ma.
Ma, mungkin aku memang belum bisa membahagiakanmu, tapi nanti, aku pasti akan memperlihatkanmu bahwa aku bisa!
Teruntuk ibu yang bersamaku hingga saat ini, terimakasih, telah mendidik kami, anakmu ke jalan yang benar, walaupun seringkali habis sabarmu dalam menasehati kami, tapi kami tak pernah lupa itu, kami tahu, apa yang kau lakukan dan perbuat untuk kami adalah untuk kebaikan kami di masa depan nanti. Maaf, bu. Kita selalu tak bisa berkomunikasi dengan baik, selalu ada sesuatu yang salah antara kita, entah aku yang tak mengerti maksudmu, entah kau yang tak mengerti maksudku. Tentang segala ingin yang kau mau, tentang segala apa yang kuperbuat.
Maaf, Bu. Maaf karena mungkin aku sudah menyakitimu, karena aku selalu tak pernah menyadari kesalahan apa yang telah kuperbuat, ucapan apa yang mungkin menyakitimu. Bibir ini masih sering terucap kalimat yang mungkin menyakitkan hatimu, maaf, aku tak pernah bermaksud begitu, hingga akhirnya sekarang, aku pilih diam, daripada memulai perselisihan denganmu, dengan begitu, kita aman, tak akan ribut-ribut kecil atau bagaimanalah.
Aku hanya enggan memulai konfrontasi didepanmu, dan sungguh aku pun tak mengerti kenapa hingga hari ini aku belum bisa terbuka denganmu, lima tahun kurang untuk kita mengerti masing-masing kita, dan masih ada waktu-waktu ke depan yang membuat kita saling memahami jika kita saling menyayangi.
Mama, Ibu, maaf aku belum bisa menjadi kebanggaan kalian, tapi yang pasti harus tahu, bahwa jalanku menuju ke sana, menuju menjadi yang membanggakan kalian berdua, tak pernah terucap, selalu dalam hati, namun aku ingin ibu tahu, aku menyayangimu, bu sama seperti aku menyayangi mama, tak ada arti lebih sayang siapa, keduanya sama. Teruslah menjadi ibuku yang paling sabar dan selalu kuat untuk menghadapiku, Bu.
Aku sayang kalian J
Your daughter.