Artikel

Selasa, 10 Februari 2015

surat ini tentangmu dan rasa yang pernah hadir


Kau ingat pertama kali kita jumpa di jejaring sosial yang paling heitz pada masanya itu? Saat aku dan kamu belum saling mengenal, ternyatakita satu kampus yang sama, kebetulan macam apa itu? Bahkan ternyata kita hampir mengenal semua orang yang ada di lingkungan kita, aku dan organisasiku serta kamu dan teman-temanmu. Aku ingat, bagaimana kamu pertama kali meminta nomer ponselku untuk bertukar pesan, karena online saja tak cukup bagi kita, pun masih kuingat bagaimana isi smsmu pertama kali malam itu yang kemudian bersambung pesan-pesan berikutnya hingga pukul 10 malam kau menyuruhku tidur karena kau juga ingin beristirahat.
Kita sama-sama saling menemukan ketika kita telah mengikhlaskan kehilangan, kau berpisah dengan wanitamu saat itu, dan akupun kebetulan mengalami hal yang sama, kau yang datang dengan tenang dalam kehidupanku saat itu. Malam itu, tak pernah terpikir olehku kau akan masuk dalam kehidupanku, aku tak berharap banyak padamu saat itu, namun siapa yang paling tahu perihal rasa?
Sejauh apapun bibirku berkata “tidak”, sekuat itulah hatiku berucap “YA”. Ah kau, aku tak habis pikir bagaimana caramu memasuki hati dan pikiranku, awalnya kuanggap kau hanyalah teman yang biasa saja, tak berkesan suatu apa, bagaimana bisa diriku tenang saat kau tak mengabariku sehari? Dan bagaimana paniknya dirimu mengetahui aku tak ada kabar padahal hanya karena provider kita yang error sehingga komunikasi kita tersendat.
Saat ada lelaki yang mendekatiku kau selalu menyatakan keberatanmu, menganggap semua lelaki yang datang hanya ada maunya saja, kau menghalau mereka semua, hingga tak pernah ada lagi lelaki yang kuceritakan kepadamu.
Bagaimana kau bisa menyemangatiku yang saat itu sedang  down,  bagaimana juga aku menjadwalmu kuliah, memarahimu jika tak datang kelas, pun jika kau bangun kesiangan, kita berlomba-lomba bangun pagi sesudah itu, pesanmu yang mengatakan “Hayo, kamu kalah, belum memberi kabar padaku, bangun dan sholat subuh dulu sana” saat aku membuka mataku, dan akupun tersenyum kemudian bangun dan mengambil wudhu lalu sholat setelah itu membalas pesanmu, menanyakan aktifitas seharian itu, jadwalmu pun kuhapal, begitupun kamu, kadang jika aku mengantuk, kita dengan nakalnya bertukar pesan, hingga kuliah yang membosankan itu selesai. Bahkan seringnya, kau mengikuti kelasku dari luar, kemudian mengomentari dosenku lewat sms dengan pesan ketawamu yang khas.
Banyak lagu yang mengiringi kisah kita, bahkan kadang kita nyanyikan berdua kemudian kau berujar “ini liriknya kita banget ya” dan aku hanya tertawa menimpalimu, sambil mengingat batasan kau hanya temanku.
Jujur membuatku serba salah, aku takut dengan mengakui rasa yang ada, maka kau akan menjauh, hal bodoh yang aku hanya bisa tersenyum sekarang, bahwa ternyata kau menunggu kejujuranku perihal rasa yang kupunya. Tak kurangkah segala bentuk perhatianmu kuterima? Tak kurangkah segala bentuk perhatianku untukmu? Godaan-godaan kecil kala kita bermain bersama, bahkan ringtone handphone kita setting secara khusus. Kau membutuhkan keyakinanku untuk melangkah bersama. Berdua.
Namun, hal itu sepertinya sia-sia, saat cinta kita tak berujung restu. Aku ragu, aku tak berani memperjuangkanmu karena ada satu hal yang mungkin tak bisa kuterima. Kau melihat keraguanku, namun hanya bisa diam, karena sejujurnya kau tahu alasanku meragu.
Jenuh, hingga pada akhirnya aku hanyalah wanita yang membutuhkan kepastian dari hubungan ini, berapa banyak teman yang memperingatkanku untuk menjauh darimu dan itu semua tak kugubris, hingga saatnyalah aku merasa ini semua harus diakhiri, perihal kamu, perihal kita dan rasa yang kita miliki.


Sekarang, kita menjadi asing, saling tak mengenal, namun kamu menjadi batu loncatan hidupku, semangatku untuk terus melangkah, aku sudah lupa caraku moveon hingga akhirnya aku terbiasa tanpa kamu. Terimakasih telah mengajarkan segala, mengajarkan arti peduli, mengajarkan untuk bagaimana merasa lebih peka. Bahagialah kau dengan wanitamu sekarang ya ^^