Artikel

Kamis, 10 Agustus 2017

Amazing Trip in Petungkriyono Pekalongan, Central Java Indonesia

Halooooo, biasanya dari Kota Semarang kalo mau ke Kota Jakarta pasti ngelewatin Kota Pekalongan, ya  kaaan? Udah pernah explore Kota Batik satu ini belum?  Kalo boleh jujur, aku ke Kota Pekalongan paling mentok itu nemenin ibuku berburu kain batik, kuliner sebentar terus pulang ke Semarang lagi. Makanya aku excited banget waktu tahu kalo namaku ada di list peserta APNE 2017. Yeaaaayy, liburaaaann!


Sekilas tentang APNE 2017 (Amazing Petung National Explore) merupakan ajang nasional yang diadakan oleh Pemkab Pekalongan bersama Bank Jateng. Ajang ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari bloger, drone, jurnalis, dan fotografer. Setelah para calon peserta mendaftar akan disaring oleh panitia menjadi 80 orang yang bisa mengikuti APNE 2017 dan bersedia untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh APNE 2017.

Rundown hari pertama hanya registrasi dan pembagian kamar, briefing dan pembukaan APNE 2017 oleh Bapak Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, setelah briefing, pembagian kaos dan co-card, peserta APNE 2017 kembali ke kamar untuk beristirahat dan bersiap diri esok hari.

Keesokannya, setelah sarapan pagi di hotel dan absen pagi, kita menuju pendopo Kajen untuk sarapan (lagi!) dan pelepasan peserta oleh Pak Bupati, tak lupa kita pun diberikan kain batik oleh Pak Bupati. Setelah rangkaian acara seremony selesai, kita menuju Kecamatan Doro menggunakan bis, di kecamatan Doro telah menunggu “Anggun Paris” untuk membawa kita menuju destinasi wisata Petungkriyono.

Anggun Paris merupakan akronim dari Angkutan Gunung Pariwisata. Anggun Paris juga merupakan salah satu moda transportasi warga desa petungkriyono untuk mengangkut hasil panen mereka ke kota. Anggun Paris berupa mobil pick up yang dimodifikasi sedemikian rupa, agar tak hanya mengangkut hasil sayur, tapi juga bisa mengangkut manusia atau wisatawan yang ingin berwisata keliling petungkriyono. Kamu juga dapat menyewa Anggun Paris ini seharga 500 ribu untuk berkeliling petungkriyono seharian, dengan kapasitas 12 orang, sudah cukup terjangkau harga segitu kan?
Menikmati Tarian Petung sambil menyeduh kopi petung, mantaaapp

Pertama kita menuju gerbang petung dan disambut oleh penari yang menarikan tari petung, kemudian kita juga mencicipi kopi khas petung di sini, kopinya light, untuk aku yang asam lambungnya tinggi, kopinya masih aman untuk kukonsumsi. Kemudian kita melanjutkan perjalanan lagi untuk menuju curug-curug yang ada di Petungkriyono.
1.       Curug Sibedug
Salah satu spot di curug sibedug
Duh...
Asik banget kan buat foto2

Menurut Legenda, Sibedug diambil karena sering terdengar bunyi ‘mistis’ “dug...dug...dug” seperti suara gamelan di tempat itu pada malam jumat kliwon. Spot pertama ini spot yang paling dekat dari gerbang masuk, jadi tidak perlu berkendara terlalu jauh untuk menikmati keindahan alam curug ini.

2.       Jembatan Sipingit
Abaikan dua orang itu ya -_-

Jembatan ini punya ceritanya sendiri, jembatan ini sudah ada dari masa Belanda, di bawah jembatan ini terdapat PLTA dan aliran sungai yang juga bisa untuk bermain air dan pastinya spot foto yang keren, bagus dan instagram-able, hihihi.
Pemandangan jembatan dari bawah
Nah kalo ini pemandangan dari bawah jembatan

Ini juga pemandangan dari bawah jembatan


3.       Curug Welo

Ya, di curug welo ini, bisa melakukan ini semua guys, 
harganya pun terjangkau, river tubing aja 75ribu! 

Spot foto kekinian emang lagi hits yaaa

Di Welo, banyak sekali wisata yang bisa kamu jelajahi ada River Tubing yang bisa kamu nikmati dengan membayar 75 ribu, river tracking 60 ribu, body rafting 35 ribu, dan juga ada persewaan pelampung dan ban seharga 10 ribu, ada juga pendakian dan pemancingan serta tak lupa pohon selfie!
Paling banyak yg lucu2 ya di welo ini,
 ada rumah pohonnya segala, penasaran? Yuk liburan bareng! 

4.       Curug Bajing

Tempat ini disebut curug bajing karena dulunya tempat ini perkampungan yang terdapat bajing (pencuri) yang sukanya mencuri hasil ternak dan hasil panen warga. Dan biasanya para pencuri itu suka bersembunyi di pegunungan yang ada di sekitar curug. Curug ini mulai dibuka untuk wisata sekitar 2014 silam.
Surga yang tersembunyi banget kaaan?
Ada batik motif petung juga lho 

5.      Curug Lawe
Wah ada sambutan apa tuh :)
Penampilan dari Rampak Santri AlFusha
Ni masih penampilan luar curug lawe wah...

Mushola curug lawe 

Mari makaaan! Nasi dari beras hitam :))
Spot terakhir yang aku datangi ialah curug lawe, begitu datang sudah disambut oleh RASHA “Rampak Santri Al-Fusha” mereka menyambut dengan nyanyian dan tarian selamat datang yang dapat kita nikmati di depan pintu masuk, ada marching band juga, wah pas banget selagi melepas lelah karena berburu foto dari curug ke curug kita disuguhi nyanyian masa kecil kita, dan juga lagu-lagu daerah. Di curug ini juga kita makan siang yang kesorean dan disambut oleh ibu bupati yang menyampaikan pesan untuk kita para peserta APNE 2017, setelah istirahat dan mencari spot foto yang ciamik, kita pun disuguhi atraksi kopi khas petung.
Wihihihi seru baattss kaann

Semakin sore, dan akhirnya sebelum maghrib dan benar-benar gelap, kita menaiki Anggun Paris yang akan membawa kita kembali menuju Kecamatan Doro atau shelter pertama kita. Selesailah sudah perjalanan menyusuri Petungkriyono, its so amazing!

Hari ketiga di Pekalongan, kita habiskan dengan mengunjungi Batik Failasuf, di sana kita dijelaskan tentang bagaimana cara membuat batik, proses membatik dari awal, tak lupa batik petung yang diluncurkan Juli lalu juga turut dipamerkan di sini.

Tampak depan batik
Neng, mau abang anterin nggak neng?

Disambut oleh batik petungkriyono
Batik yang dijemur (abaikan yg merem2)

Yak, tampaknya segitu dulu aja cerita dari bumi pekalongan, yang jelas saat aku nulis ini, aku masih belum bisa moveon dari sana, ya dari pemandangannya, dari temen2nya, dan dari canda tawa yang tercipta.
See you in next trip!