Artikel

Minggu, 06 Juli 2014

BI

Aku mencarimu, Bi. Sosokmu tak kulihat lagi di sini, di tempat biasa kita menyempatkan sua. Tak rindukah kamu dengan kebersamaan kita dulu? Tak rindukah kamu dengan kecerewetanku atau saat kita bercanda tertawa bersama? Atau ketika kesedihan datang menghinggapi kita salah satu diantara kita berusaha untuk saling menguatkan dan menyemangati bahwa kita bisa menaklukan dengan mudah masalah yang ada, tak ada kata lari dari masalah dalam kamus kita, karena seperti itulah kita menjadi semakin kuat, semakin kokoh dan semakin tegar.
Kamu ke mana Bi? Dulu, 24 jam rasanya kurang dalam sehari saat kita berjumpa, selalu saja ada hal-hal yang membuat kita rela untuk bersama demi membunuh waktu yang terus mengukung. dulu, kita saling membantu tugas kita. Kita kerjakan bersama, berdua, membantu dan menyemangati sambil sesekali saling usil, tak pernah ada kata bosan dalam setiap pertemuan-pertemuan kita,  kita bisa mengusir itu.
Ah, dulu. Selalu dulu Bi, sebelum kita mulai menghilang, menjauh karena kesibukan yang selalu membedakan kita. Sibuk? Ah satu kata itu sukses membuat kita semakin berjarak Bi. Terlebih lagi, jarak. Jarak dan sibuk apakah sudah cukup untuk menjauhkan kita? Aku rasa satu lagi yang tepat, komunikasi antara kita. Kita tak pernah menyempatkan sua dalam komunikasi kita, hanya sibuk dengan dunia kita sendiri, sibuk bahwa semua yang kita hadapi bisa kita hadapi sendiri tanpa ingin membaginya dengan orang lain, denganmu, Bi.

Tiga hal itu sukses membuatku kehilangan sosok sahabat yang selalu ada selama empat tahun lebih, dan sekarang kita merasa asing satu sama lain, Bi. Tapi ketahuilah, kau tetap sahabat terbaikku, Bi. J