Artikel

Jumat, 07 Juli 2017

Ngabuburit dan berburu kuliner khas Kota Semarang

Banyak hal yang terjadi di ramadan tahun 2017 ini, Alhamdulillah membuatku bisa lebih dekat dengan keluarga, tidak seperti puasa ramadan tahun sebelumnya yang membuatku jarang berbuka puasa bersama keluarga di rumah karena banyaknya undangan buka bersama dari para teman sekolah dan komunitas. Bahkan, pergi ke luar rumah selama bulan ramadan tahun inipun bisa dihitung dengan jari, tapi tak membuatku ragu untuk bercerita tentang keseruan puasa ramadan kali ini.
pemandangan dari lantai 19 menara asmaul husna, 
terlihat jelas dari atas bentuk MAJT

Sore itu, Aku sama Kinan janjian untuk ngabuburit dan buka puasa bareng, akhirnya tempat yang kita tuju sore itu adalah salah satu tempat paling ikonik di Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid Agung Jawa Tengah memang bukan masjid tertua yang ada di Semarang, karena baru dibangun pada tahun 2002 dan baru diresmikan pada tanggal 14 November 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Masjid Agung Jawa Tengah ini dibangun tidak hanya untuk tempat ibadah tetapi juga sebagai objek wisata religius. Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya aritektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi. Hal itu terlihat dari atap masjid yang berbentuk limas khas bangunan Jawa dan dibagian ujungnya terdapat kubah besar dengan 4 menara di tiap penjuru atapnya sebagai bentuk masjid universal islam, dan gaya Romawi terlihat dari 25 pilar yang ada di pelataran masjid yang dihiasi kaligrafi yang menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul.
Oh ya, Aku sama Kinan juga main ke Menara Asmaul Husna yang tingginya 99 Meter dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 7500 saja, sudah bisa naik hingga ke lantai 19 dan melihat pemandangan Kota Semarang dari ketinggian. Tidak hanya melihat pemandangan dari atas saja, di menara ini juga terdapat Museum Kebudayaan Islam yang menceritakan tentang perkembangan Islam di Jawa Tengah yang terletak di lantai 2 dan 3, serta di lantai dasar terdapat studio radio Dais. Sebenarnya, di lantai 18 terdapat kafe putar, sayang sekarang sudah tutup. Masjid ini mempunyai luas 10 Hektare (Ha) dan berlokasi di Jalan Gajah Raya No. 128, Sambirejo, Gayamsari.
salah satu pemandangan Kota Semarang dilihat dari ketinggian 

Puas melihat pemandangan Kota Semarang dan mengeksplore masjid ini, kita menuju ke Semawis dengan tujuan mencari takjil sebagai makanan ringan berbuka puasa, sesampainya di Semawis aku kebingungan membeli jajanan karena banyaknya penjual dan berbagai macam jajanan hits yang ada di Kota Semarang digelar di sini. Mulai dari Tahu Petis, DumDum Thai Tea, Lekker, Aneka Dimsum, Bakso Tempura,ES Conglik, bahkan Telur lilit khas jajanan kita jaman SD ada di sini. Akhirnya pilihan pertama kita jatuh kepada Wedang Tahu khas Semarang, pusatnya berada di Jalan Gajahmada (Emperan toko roti Swiss), minuman khas Semarang tempo dulu ini berbahan air jahe panas dicampur dengan sari tahu. Wedang tahu ini juga berkhasiat untuk menurunkan kolesterol dan air jahenya untuk meredakan masuk angin, seporsi wedang tahu ini bisa ditebus dengan harga 7ribu saja.
wedang tahu, anget-anget enyoy!

Setelah berbuka dengan wedang tahu, kita juga jajan ayam crispy yang ditaburi bumbu dan dipotong kecil-kecil, setelah itu kita tutup dengan ES CONGLIK!!!
ayam krispi, seporsi berdua karena buanyak banget


Es Conglik ini bisa dibilang es puter yang melegenda di Kota Semarang. Es puter ini sudah ada di Semarang sejak tahun 1944, dan dinamakan Es Puter Conglik karena penjual es puter ini dulunya seorang kacong cilik (pembantu kecil). Es puter favorit kebanyakan orang Semarang itu rasa durian, kelapa muda, kopyor dan kelengkeng, tapi waktu kemarin hanya ada rasa coklat, vanilla, kelapa muda, dan durian. Seporsi es conglik lengkap dengan siwalan, mutiara, jelly membuat es conglik ini kaya rasa dan segar untuk cuaca Semarang yang panas. Duriannya sangat berasa apalagi kelapa mudanya, kelihatan kan di foto juga ada daging kelapa muda. Seporsi es conglik bisa ditebus dengan 15 ribu saja.
es conglik yang menggoda, hmmm

Setelah dari Semawis dan sebelum kita makin kalap, kita akhirnya menuju ke Nasi Pindang Kudus dan soto sapi Gajahmada. Kalian tahu nasi pindang nggak? Aku biasanya suka keliru antara nasi pindang dengan nasi gandul, karena keduanya sangat enak! #eh #apasih
Nasi pindang yang disajikan di sini berupa nasi dengan kuah hitam, yang ditambah dengan suwiran daging sapi serta daun melinjo dan ditambah taburan bawang goring di atasnya, ubo rampe yang tersedia di meja yaitu kerupuk udang, tempe dan perkedel. Penyajian nasi pindang pun tidak langsung di piring melainkan dialasi dengan daun pisang sangat mirip dengan nasi gandul. Seporsi nasi pindang ini dihargai 17 ribu.
Nasi Pindang Kudus Gajahmada

Sampailah kita di penghujung hari, karena sudah berburu takjil serta makan berat dan waktu yang menunjukkan jam 8 malam membuat kita menyudahi jalan-jalan hari ini. sekian tulisan #KulinerRamadan kali ini, ciaooo


tulisan ini diikut sertakan dalam lomba blog pesona ramadan Jawa Tengah yang diadakan oleh Genpi Jateng. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mari berkomentar yang baik yaaaa