Menghabiskan Sore di Warkop Alam Semarang

17 komentar

Siang ini aku janjian sama temanku di Warung Kopi Alam. Tempat ini merupakan salah satu tempat kesukaanku, pertama kali aku ke sini di tahun 2017, aku yang saat itu menghindari Kopi karena memiliki gangguan asam lambung, membuat aku hanya memesan menu selain kopi di sana, tapi ownernya Mbak Ulin bilang, bahwa kopi yang diracik aman untuk lambung, bahkan memberikan garansi lebih kalau sampai perutku sakit sehabis meminum kopi buatannya. Yasudah, aku ikut memesan kopi o susu dingin seperti teman-temanku lainnya, rasa kopinya enak, dan benar saja perutku tetap baik-baik saja hingga beberapa hari ke depan.

Warung Kopi Alam berlokasi di Pecinan atau Semawis, jadi yang suka nyari kulineran semarang di Pecinan, pasti melewati tempat ini. Beberapa teman-teman bloger juga aku ajak singgah dan aku rekomendasikan tempat ini untuk dicicipi. Setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu selalu ramai karena jam buka Pasar Semawis juga di tiga hari itu.

Tapi ternyata, beberapa waktu lalu Mbak Ulin berkabar di Facebook memberitahukan bahwa lokasinya pindah, di Jl. Singosari, wah tengah kota! Aku bahagia, hehe sebagai anak Semarang Atas, Semawis itu lumayan jauh ya sodara, jadi aku happy saat tahu lokasinya pindah ke Pleburan. Sebetulnya kemarin sudah mampir ke sini, aku minum es telang. Rasanya enak. Mungkin lain kali aku akan memesan telang hangatnya karena telang hangat bisa berubah warna dari biru menjadi warna ungu jika terkena acid.

Kembali lagi, aku janjian jam 3 sore sama Mbak Dini, Cuma karena acaraku selesai jam 1 siang dan aku enggak ada janji lagi setelah itu, ya sudah aku memutuskan untuk menunggu temanku itu sekalian saja di Warkop Alam sambil melanjutkan pekerjaanku. Begitu datang, sambutan baristanya sangat ramah. Suasana homey seketika memasuki perasaanku, nyaman dan tenang sekali. Padahal saat itu ada beberapa pengunjung. Aku memilih meja di pojokan dekat dengan listrik, agar mudah nantinya jika laptop atau gawai yang aku bawa membutuhkan daya isi ulang.



Setelah memesan Es Saparila dan Ropang Srikaya, aku kembali ke meja. Roti bakar srikaya ini merupakan salah satu menu andalan yang enggak pernah absen aku pesan di sini. Srikayanya enak. Beda dari yang lain, kalau kamu pecinta srikaya, bolehlah dicoba srikayanya Warkop Alam.

Aku teringat bahwa ada banyak menu baru Warkop Alam yang belum aku coba, dan sepertinya menu barunya sangat kental dengan budaya khas Kota Semarang. Ada lontong cap gomeh juga di bulan Februari ini bisa dicek promonya di social media warkop alam. Selain lontong cap gomeh juga ada bubur Hainan, bubur hioko, nasi bakar, dan masih banyak yang lainnya.

Nasi bakar fengan isian jamur hioko yang lezat, harga 15 ribu

Nasi hainan dengan isian full ayam dan jamur hioko, sendok di dalam gelas berisi air panas untuk sterilisasi

konsep Warkop Alam yang baru ini adalah menambahkan makanan berat cukup variatif, kata Mbak Ulin karena kebanyakan orang nongkrong untuk ngopi yang sering melewatkan waktu makannya makanya di Warkop Alam juga menyediakan varian makanan berat Cuma enggak lupa sama konsep Warkop Alam itu sendiri, peranakan Semarang, jadi makanan yang dijual selalu ada ceritanya sendiri. Siang itu aku mencoba nasi Hainan ayam jamur, yang bikin otentik di sini adalah jamurnya, aku jarang menemukan nasi Hainan memakai jamur hioko (atau akunya yang kurang update?) porsi ayam dan jamur hiokonya banyak, dan aku suka jamurnya, manis dan gurihnya pas. Untuk harganya, menu makanan di Warkop Alam termasuk variatif, dengan kisaran harga 8000 hingga 30ribu rupiah, termasuk standart untuk sebuah kafe di Kota Semarang. 

Saat aku sedang menyantap makananku, Mbak Dini datang, kami pun melanjutkan ngobrol bertiga sama Mbak Ulin juga membahas menu dan ceritanya yang ada di Warkop Alam. Rasanya enak, harganya terjangkau, itu yang dikedepankan Mbak Ulin karena paham dengan kami-kami yang bekerja atau kadang kumpul di warung kopi. Kamu mau ketemuan sama aku? Bolehlah sesekali kita ngopi sambil cerita nabi atau bertukar informasi



17 komentar

  1. Weew..sudah pindah ke singosari yaa. Aku baru tahu..hahahhaa

    Ke sini emang enaknya ramai-ramai. Biar bisa berbagi makanan yang dipesan. Jadi kita bisa cicipi banyak makanan..hehhehe

    Mau ketemu sama kakaknya aja sampai bikin jadwal dan tempatnya dulu. Pasti kakak punya banyak referensi tempat makan dan nongkrong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah mas, mulai Desember kayaknya pindahnya.

      hihihi iya ngopi memang enak ramean, daripada sendirian. kan berbagi kisah juga seru kalau rame.

      ah, masnya juga kalo mau ketemu kan sibuk juga, lebih hits kakaknya juga kan?

      Hapus
  2. Eh iyaaa aku juga ga prnh liat nasi Hainan pake jamur. Biasanya yg begitu nasi tim .

    Waaah cobaaa kalo aku taunya pas sedang di Semarang , Desember kemarin. Aku datangin mba. Ini sih menu2nya favoritku semuaaaa :D.

    Kopi aku juga doyan bangeeet. Udh kayak doping itu :D. Bagus sih konsepnya kalo karena nyediain makanan berat juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayok, berarti disuruh main lagi ke Semarang mbak. hihi.


      iya, tadinya belum ada makanan beratnya, paling nasi bakar/bubur hioko aja, alhamdulillah sekarang sudah ada tambahan menunya.

      Hapus
  3. Haii mbak, salam kenal. Kalo saya sih juga menghindari kopi.. Tapi karena memang tidak suka rasanya. Menurut saya aneh dan saya agak mual. Jadi saya tidak meminum ko[i nih hheege

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mas Dodo, aku juga tidak begitu suka kopi, dan di warkop alam juga menyediakan es telang, jamu-jamuan dan macam2 lainnya.

      Hapus
  4. Hi Kak Erina, salam kenall πŸ‘‹πŸ»

    Aku baru pertama lihat nasi bakar dan nasi hainam pakai jamur hioko 😱 kreatif sekali ownernya~ mana dijualnya dengan harga bersahabat, padahal harga jamurnya sendiri terbilang mahal πŸ˜‚.

    Aku belum pernah coba telang pakai es nih. Biasanya aku minum hangat-hangat πŸ™ˆ dan sekarang aku jadi kepo sensasi es telang seperti apa 🀭 ntar siangan mau coba buat mumpung aku masih punya stock teh telangnya 😁.

    Oiyaaa, Kak Dini yang dimaksud itu apakah Kak Dinilint? 😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak Lia, salam kenal kembali. hihi sekarang kita sudah kenal ya kak!

      rasa nasi hainannya enak, kak lia bisa mencobanya jika sedang berkunjung suatu hari nanti kak.

      sudah dibuat telang esnya kak? bagaimana rasanya? segar pastinya ya.


      iya kak, Kak Dini itu Kak Dinilint. hihi

      Hapus
  5. Mba Erinaaaaa
    siang2 gini baca blogpost ini kok "siksaan" bgt buatku yhaaa wkwkwk
    aku auto ngebayangin makanan yg endolita dan es telang yg suegerrrr
    duh, mauukk otw SMG!

    BalasHapus
  6. boleh juga nih ya spot untuk ngupi2 cantik ala-ala. Eh cerita nabi itu seperti apa mba, jadi penasaran

    BalasHapus
  7. warung kopi memang menjadi tempat untuk hangout bersama teman, namun tetap ingat pandemi masih ada jadi wajib patuhi protokol kesehatan, btw itu rotinya kayaknya enak

    BalasHapus
  8. Mbak aku penasaran view/ dekor warkopnya kek apa kok dinamai "alam" apakah lbh bayak space outdoornya atau gmn?
    Makanannya enak2 kyknya yaa, otentik makanan org Semarang peranakan zaman dulu semua kah?

    BalasHapus
  9. Aku ngenceessssssss nasi bakarnya. Nanti klo ke Semarang ajak aku ke sini yak. Eh gak ding aku tak budal dewe wis.

    BalasHapus
  10. Akhir-akhir ini aku kok sering banget denger kata orang minum es Saparila.
    Heuheuu...sepertinya segar sekali yaa...siang-siang minum es dan makan dengan pemandangan alam yang superb.

    BalasHapus
  11. oke oke besok kita kesana ya,hehehe. Ntah kapan nih Er aku ke semarang, pengen pake banget

    BalasHapus
  12. Wua hepi banget bisa nongkrong dan menikmati cemilan enak. Aku belum pernah coba ke sini kak. Semoga bisa main ke sini kapan-kapan

    BalasHapus
  13. Er,,, aku to pas baca ini pas lagi laper. Ndak an aku kudu ke Warkop Alam iki?
    Tapi to ketokke Warkop Alam e rung buka. Duh.

    BalasHapus

Mari berkomentar yang baik yaaaa